Akhir-akhir ini isu "kafir' ditebar oleh kelompok orang tertentu yang tidak menyenangi para
pemimpin jujur yang beragama berbeda dengan kelompok mayoritas.
Hal ini sangat kentara terlihat pada isu kafir yang dilontarkan kepada Gubernur DKI Ahok. Semakin dekat dengan saat Pilkada Gubernur, isu itu akan semakin kencang ditiupkan.
Akan tetapi, penulis percaya bahwa kebenaran dan kejujuranlah yang akhirnya akan jadi pemenang,
sementara kelompok nyinyir yang suka mencibir kafir itu akan menjadi pecundang.
Peristiwa ini penulis tuangkan dalam bentuk puisi berikut. Silakan menikmati!
Nyinyir
Bibir Mencibir Kafir
Oleh Budianto Sutrisno
Konon, ada bermacam ragam bibir
ada bibir merah merona, ada bibir
biru mengharu
ada bibir seksi menantang, ada bibir sumbing bikin merinding
ada bibir madu, ada bibir empedu
ada bibir peti rapat, ada bibir
ember bocor
ada bibir polos lurus, ada bibir
bengkok berliku
ada bibir memuji, ada bibir mencaci
ada bibir berlagu merdu, ada bibir
menembang sumbang
ada bibir beraroma gaharu, ada
bibir bau anyir bangkai kaku
Namun ada sepasang bibir yang saat
ini jadi buah bibir
bibir yang selalu nyinyir
bibir yang tak henti mencibir
nyinyir menebarkan isu kafir
mencibir pemimpin jujur sebagai insan
kafir
kata ’kafir’ telah jadi rapal mantra
nenek sihir
’tuk bentuk kebencian tiada akhir
agar orang jujur jadi tersingkir
Tapi apa hendak dikata
rakyat hadir bukan 'tuk jadi makhluk pandir
rakyat hadir bukan 'tuk jadi makhluk pandir
selicik apa pun si nenek sihir
menebar benih kafir
tak mampu dia melawan takdir
ksatria kafir bukannya amblas ke
titik nadir
simpati dan dukungan rakyak justru semakin
membanjir
nenek sihir terbalik dan terjungkir
bibir nyinyir berubah jadi bibir
tapir
***
No comments:
Post a Comment