Perlukah Anak-Anak Belajar Bahasa
Asing sejak Usia Dini?
Berbagai manfaat Belajar bahasa asing sejak usia dini bukanlah sekadar upaya menghafal kosakata atau memperbaiki tata bahasa. Belajar bahasa asing merupakan latihan mental untuk memperkuat kemampuan otak dalam beradaptasi dan tumbuh kembang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki keterampilan bilingual itu memiliki kemampuan multitasking yang lebih baik ketimbang anak-anak yang hanya terampil dalam satu bahasa.
Seperti kita ketahui, periode emas perkembangan otak anak terjadi pada periode awal kehidupan mereka. Pada periode tersebut, pertumbuhan dan perkembangan otak mencapai puncaknya. Pada fase inilah anak memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menyerap dan memproses informasi baru dengan efisiensi yang menakjubkan. Dengan demikian, belajar bahasa asing sejak usia dini bukan saja perlu, melainkan sangat perlu!
Di samping itu, belajar bahasa asing juga bermanfaat bagi pengembangan sosial dan emosional anak. Interaksi dalam bahasa asing akan memperkaya kecerdasan emosional anak. Mereka dapat belajar perihal empati dan pemahaman lintas budaya. Hal ini memungkinkan mereka untuk berkomunikasi dan berkolaborasi dengan orang-orang dari latar belakang yang beragam. Ini bukan sekadar dapat memperkuat hubungan sosial, melainkan juga membuka pintu untuk peluang emas dalam skala internasional di masa depan—baik dalam studi maupun karier.
Dengan menguasai bahasa asing, anak-anak dapat dengan mudah menjalin hubungan sosial dengan teman-teman yang berasal dari berbagai latar belakang budaya. Keterampilan ini menjadi modal yang sangat berharga di era globalisasi sekarang ini, di mana interaksi dan kolaborasi lintas negara menjadi sesuatu yang lazim terjadi.
Anak-anak yang belajar bahasa asing sejak usia dini memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Mereka cenderung lebih terbuka dan responsif terhadap perspektif pandangan yang berbeda. Selain itu, mereka juga memiliki kemampuan beradaptasi yang lebih baik dalam lingkungan sosial yang beragam. Keterampilan ini akan membantu mereka dalam membangun jaringan sosial yang luas, sekaligus juga memberikan fondasi yang kuat bagi kesuksesan mereka di masa depan.
Manfaat lain yang bisa diperoleh dari belajar bahasa asing sejak usia dini adalah meningkatnya memori secara signifikan. Memori merupakan salah satu aspek kognitif yang sangat penting dalam sebuah proses pembelajaran.
Fakta menunjukkan bahwa anak-anak yang terampil berkomunikasi dalam lebih dari satu bahasa, sering menunjukkan kinerja yang mengesankan dalam penyelesaian tugas yang berkaitan dengan memori kerja. Fungsi memori kerja ini merupakan kunci utama dalam mendukung keberhasilan akademik.
Penelitian yang dilakukan oleh Adesope et al pada 2010, memberikan bukti empiris yang mendukung fenomena ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan kemampuan bilingual memiliki kemampuan memori yang lebih tajam dan canggih ketimbang anak-anak yang monolingual. Keunggulan ini tidak hanya terbatas pada kemampuan berbahasa, tetapi juga merambah pada pemahaman konsep-konsep akademik lainnya. Dengan kata lain, bilingualisme tidak hanya memperkaya kemampuan berkomunikasi, tetapi juga memperkuat struktur kognitif yang mendukung pembelajaran di berbagai bidang ilmu.
Pemahaman ini membawa implikasi penting dalam dunia pendidikan. Kurikulum yang mendukung pembelajaran bahasa kedua dan ketiga sejak usia dini, dapat menjadi investasi jangka panjang untuk membangun fondasi memori yang kuat bagi para siswa. Dengan demikian, pendidikan bilingual tidak hanya berguna untuk mempersiapkan siswa menjadi warga dunia yang well-connected dengan bangsa lain, tetapi juga memberikan manfaat kognitif yang merupakan sarana untuk meraih kesuksesan akademik di masa depan.
Kesimpulan Penguasaan bahasa asing merupakan kunci yang banyak membukakan pintu peluang emas—bukan saja dalam karier, melainkan juga dalam memperkaya kehidupan sosial dan emosional. Dengan menggalakkan upaya pemahaman antarbudaya, empati, dan toleransi, kita mempersiapkan anak-anak kita untuk menjadi warga dunia yang lebih dewasa dan bertanggung jawab.
Mari kita dukung dan dorong generasi muda untuk memeluk keanekaragaman bahasa dan budaya sebagai bagian tak terpisahkan dari pendidikan mereka, demi tercapainya masa depan bangsa yang lebih cerah.
Untuk keterangan lebih rinci tentang pendidikan bahasa asing yang berkualitas bagi anak usia dini, Anda dapat menghubungi tautan berikut ini.
-
https://cakap.com/kids-academy/
-
https://cakap.com/cakap-kids/kursus-bahasa-inggris-anak/
Kode referral:
BUDCKPSN3VVXN
Daftar Pustaka
Bialystok, E. (2010). Bilingualism: The good, the bad, and the indifferent. Bilingualism: Language and Cognition, 12(1), 3-11.
2. Cummins,
J. (2000). Language, power, and pedagogy:
Bilingual children in the crossfire. Multilingual Matters.
3.
Genesee,
F. (1987). Learning through Two
Languages: Studies of Immersion and Bilingual Education. Newbury House
Publishers.
4.
Hakuta,
K. (1986). Mirorr of Language: The debate
of bilingualism. Basic Books.
5.
Rumbaut,
R.G. (2014). Ages, life stages, and
generational cohorts: Decomposing the immigrant first and second generations in
the United States. International Migration Review, 38(3), 1160-12-5.
1.
1.
No comments:
Post a Comment